Sunday, November 10, 2013

0

Aku Tak Mau Besok Itu Senin

Sekarang hari Minggu

Agak syahdu karena hujan turun di situ

Aku tengkurap di atas kasur 

Berselancar di dunia maya, jalan-jalan di linimasa

Sungguh ini adalah surga

Sempurna


Syalalalalalalalalala

Lalalalala

Pamparampam 


Duduk di atas lantai yang dingin 

Ngemil kacang, gorengan dan es krim

Leyeh leyeh di atas bantal

Pasang pasang status frontal

Sungguh hari yang sempurna


Syalalalalalala

Aku tak mau besok itu Senin

Tak mau aku Senin itu besok

Besok itu Senin, aku tak mau


Sebentar lagi sudah malam

Besok pagi harus berangkat

Tak terasa surga telah lewat

Harus Semangat


Tapi aku tetap, Aku Tak Mau Besok itu Senin....

Syal-la-la-laaaa



Sunday, November 3, 2013

0

Random Part.1

Langit punya sendi-sendi kaku yang rapuh. Ia sedang lelah tampaknya, karena keringatnya bercucuran kemudian diseka matahari. Birunya hanya bias, karena aku melihat kantung mata abu-abunya berarak.

Pasti nanti langit berkeringat lagi...

Tadi aku menatap langit, duduk di atas hitam yang berteman merah bergaris putih. Menyedot si manis berwarna biru sampai tinggal setetes, menyuap seporsi roti isi daging sampai kenyang sang perut. Kemudian sok pintar mencoba menyelesaikan teka-teki yang disusun sang empunya televisi cetak.

Aku ingin menjadi kantung mata langit yang berarak bebas. Bebas menjadi diriku sendiri tanpa ada caci.

Tapi, kata orang, jika ingin kuat...kamu harus makan caci banyak-banyak.

Aku ingin menjadi kantung mata langit yang bisa menggantung ringan di atas. Seperti tanpa beban.

Takdir menjadi manusia itu kadang menyeruput bahagia di atas duka atau merasa duka dikelilingi bahagia. Berputar seperti itu saja.
Takdir menjadi manusia itu kadang mencicipi cinta atau disayat cinta. Dicintai dan balas mencinta, dicinta tapi balas melukai, atau mencinta tapi dilukai.

Ah, langit. Aku bicara tentang cinta, padahal tak menahu apa-apa.

Kalau aku menyukai seseorang tanpa peduli bagaimana tampak luarnya, tapi aku menyukainya karena apa yang ada dalam dirinya. Itu masih belum disebut cinta, kan, langit?

Jatuh cinta itu menyenangkan, seandainya kamu hidup langit, kamu akan merasakan euforia jantung yang berdebar-debar itu. Bahkan saat jatuh cinta, senyummu akan berbeda.

Cinta itu definisinya bukan sekadar x = y. Lebih kompleks, langit. Bahkan para ahli tidak dapat menguraikan partikel-partikelnya satu demi satu. Makanya, saat ini aku tidak siap untuk jatuh cinta.

Karena sebelum jatuh cinta dengan tuan-entah-siapa-dimana, aku harus belajar untuk jatuh cinta pada diriku sendiri.

Aku ingin menjadi kantung mata langit yang dekat dengan bulan.

Aku bicara tentang mimpi. Aku ingin menggapai satu mimpi, tapi aku tidak bisa memulainya, langit.

Ingin mencoba berbagai macam jalanan setapak, kemudian jalanan menanjak, kemudian turunan licin. Aku terlalu malu dan terlalu ragu.

Banyak kepala berujar bahwa aku mampu. Tapi semangatku lagi bermain petak umpet dan menyuruhku menghitung sampai seribu. Dengan apa aku memaksanya keluar, langit?

Satu lagi, langit. Aku punya keluarga dalam tanda petik. Bilangnya akan ada, tapi sekarang tiada. Aku yang tembus pandang atau kami bukan lagi senyawa?
Karena terkadang aku mencari, aku merindu, aku memaki. Tapi sendiri.

November, 2013

 

Saturday, November 2, 2013

0

Setelah Delta

Delta itu tanah segitiga, letaknya di tengah sungai yang melaju menuju samudera
dan aku pernah terjebak di dalamnya

menjadi satu titik dan sudut bersama ia dan dia
tapi kami tak bercengkerama, tak pernah berseteru
damai saja kelihatannya


padahal aku dan dia menyimpan satu cerita

untukku, kami satu garis.

untuknya, dia satu sudut.sudut diantara aku dan ia

Ia? tak menahu apa-apa.


aku ingin keluar dari delta ini

daripada aku melukai, daripada aku juga tersakiti

ada yang memberiku peta, jalan setapak menuju savana

tapi tak nyaman rasanya

ada yang menuntunku melaju, menuju ke atas bersalaman dengan langit senja tak berbatas

tapi terlalu tinggi tampaknya



aku melihat tanah seberang, ada empat daratan bahagia disana

mau ikut!mau ikut!

tapi aku terlalu lekat disini



berharap di penghujung lelah, ada gempa pemisah

berharap pertemuan denganmu

adalah jalan menujuku menjadi lima daratan bahagia

Wednesday, September 4, 2013

4

Sahabat

Sahabat, seperti cupcakes, sama rasa dengan banyak warna

atau... seperti rainbow cake, lambang semua perbedaan yang menjadi satu kesatuan.

Sahabat, seperti tart, alunan krim disetiap sisinya melambangkan setiap cerita yang kamu kisahkan.

atau, seperti cheese cake? dimana taburan keju gurihnya adalah lambang setiap tawa yang melebur dalam canda

Sahabat, seperti red velvet cake, dimana warna merah melambangkan keberanian kita melakukan hal-hal gila bersama ditambah krim putih yang merupakan kepolosan kita akan dunia

atau...seperti tiramisu? lambang lembutnya genggaman tangan dan pelukanmu ketika aku takut dan ragu.

Sahabat, kamu tahu lava cake? lelehan coklat di dalamnya adalah lambang dari setiap rahasia yang aku simpan rapat-rapat.

Sahabat, seperti kue bolu buatan ibu, sederhana, tapi penuh dengan kasih sayang dan kehangatan.

tapi terkadang, sahabat seperti fruit cake, buah yang rasanya asam adalah lambang setiap pertengkaran.
Sedangkan roti manis dibawahnya adalah lambang manisnya saling memaafkan :)

terkadang juga, seperti chocolate cake, krim dari dark chocolate yang pahit adalah lambang pahitnya perpisahan. Ketika keadaan memutuskan kita untuk saling berjauhan.

Juga merupakan lambang pahitnya ketika sahabatmu berubah, tidak seperti yang dulu, malah jauh berbeda dari yang dulu.

Tapi sahabat, apapun yang terjadi, satu hal yang pasti: kamu lebih berharga dari segala perumpamaan. Kamu, adalah sahabatku. Titik.

Thursday, August 29, 2013

0

Flash Fiction: Kenangan

Diana mengangkut sebuah baki berisikan dua cangkir teh Earl Grey yang masih hangat, berikut juga tekonya. Senja itu, Diana kedatangan seorang tamu istimewa, Gladys, teman masa kecilnya yang hampir berpuluh-puluh tahun tidak bersua.

Atap rumah Diana yang datar menjadi tempat reuni yang cocok bagi mereka berdua, diterangi sinar mentari senja yang khas: oranye semburat merah. Sinar itu seperti menyalakan tombol nostalgia masa kecil mereka, dimana dulu saat senja seperti ini, mereka masih bermain petak umpet di belakang rumah.

"Di, ingatkah kamu? betapa kita bahagianya kita saat itu? Saling mencari satu sama lain, berpikir keras dimana teman-teman bersembunyi, dan selalu...si Gembul yang gembul itu yang pertama ditemukan," kata Gladys sambil tertawa kecil.

Diana tertawa, "Dan aku yang paling susah ditemukan," katanya. Diana menghirup tehnya, "Ingat tidak? ketika kita sama-sama menyusun karet gelang untuk main lompat tali? kemudian si Gembul datang untuk memamerkan tamiyanya yang terbaru, lalu kita asik main tamiya sampai kita baru sadar bahwa karet gelang kita sudah raib"

"Iya, anjingku yang mengambilnya, untung dia tidak tersedak karet," Gladys tersenyum, "Aku juga ingat ketika kamu terjerembab ketika bermain gala asin," 

"Ah itu memalukan," Diana meminum tehnya, "Banyak sekali permainan yang kita lakukan dulu: main engklek, dakon, bekel, bersepeda bersama keliling desa, main sepak bola, nonton kartun bareng di hari Minggu, hal-hal yang tidak bisa kita lakukan lagi saat ini," 

"Masa kecil memang menyenangkan, yang aku khawatirkan kenyataan bahwa anak-anak kita jarang yang bermain seperti itu," kata Gladys sedih.

"Well, mereka sepertinya sudah cukup bahagia dengan adanya handphone, Tablet, dan internet. Oh iya, jangan lupakan mall," kata Diana sarkastis.

"Tidak semua seperti itu, Di. Tapi ironis, ya? hal yang kita impi-impikan dulu sekarang mudah sekali diakses, bahkan oleh anak-anak,"

"Bahagia memang sederhana, dulu, sekarang pun masih. Tapi jaman sudah tidak sederhana lagi, Dis,"

Gladys menghirup tehnya dalam hening, menatap mentari senja yang mulai bersembunyi, deru angin sepoi-sepoi seakan mengantar suara tawa ceria anak-anak yang sedang bermain. Suara tawa yang selalu hidup dalam kenangan masa kecilnya, berharap bisa mendengarnya lagi suatu kali.
0

Red!

Losing him was blue like I’ve never known
Missing him was dark grey all alone
Forgetting him was like trying to know somebody you've never met
But loving him was red
Loving him was red



Remembering him comes in flashbacks and echoes
Tell myself it’s time now, gotta let go
But moving on from him is impossible
When I still see it all in my head


I was already tell you that my favorite singer is Taylor Swift, and up there is her new song: Red.
Awalnya aku kira ini lagu orang kasmaran, karena endingnya "...but loving him was red" tapi kemudian aku sadar bahwa ada kata "was" disitu yang menandakan kelampauan. Dan setelah didengerin bener-bener, this song is about a heart broken girl yang susah move on. :') 

Well, aku sendiri nulis gini bukan berarti aku lagi patah hati....eh...ya bisa jadi, tapi selebihnya cuma sekedar sharing sharing aja kok. 
Aku sering melihat orang-orang yang lagi patah hati, kebanyakan karena cowok atau cewek yang dia sukai ternyata nggak suka sama dia. Classic, but hurt enough. 

Agak susah memang menghibur orang yang sedang patah hati, (by the way, ini bukan post tips mencegah dan mengobati patah hati ya....;) ) karena perkataan macam apapun yang terlontar untuk menghibur orang patah hati sepertinya useless. Kupingnya sih denger, tapi hatinya masih mewek. Aku sendiri pernah nangis kayak anak kecil, temenku ngehibur dengan segala cara pun tetep aku nangis. Cengeng? ya mau gimana... 

Yang baru aku sadari adalah yang bisa mengobati patah hati (meski jangka waktunya nggak cepet) adalah waktu. Waktu secara ajaib bisa mengubah hal menyedihkan itu jadi konyol banget. Dan yang ada ketika kalian mengingatnya kalimat yang muncul adalah, "Kok bisa ya gue kayak gitu?" dan secara nggak sadar waktu juga membuatmu memaafkan. Ya emang sih kadang ada yang ngerasa, "kok si itu nggak pernah ngontak gue? katanya udah maafin, katanya masih bisa temenan"

Well ladies and gentleman, nggak segampang itu, lebih susah dari soal fisika ibu saya *eh maaf nggak penting* memaafkan bukan berarti dia bisa menjadi kayak dulu lagi, butuh proses, makanya setelah patah hati, ada tahap yang disebut Move On. 
Tahap ini bisa dibilang cukup sulit, karena pasti gatel pengen kepo kepo kabar masa lalu lah, masih sayang banget lah, dan seribu satu alesan lain yang bikin kamu stuck.

(oke, ini juga bukan tips buat move on -_- cuma sharing)

Hmmm bicara soal move on, kalau kata orang, "cari aja yang baru!" tapi kalau kataku, "ini saatnya seneng-seneng sama temen" 
Selain waktu, temen atau sahabat adalah obat mujarab yang bikin kamu cepet lupa, eh nggak juga sih, mungkin lebih tepat patah hati dengan cara yang menyenangkan :) 
Temenku ada yang pernah sampe curhat ke beberapa orang, mungkin sampe mulutnya berbusa kali. Tapi rasanya setelah itu legaaa. Ada juga yang curhat sambil nangis, ada yang cuma diem sambil nangis, (banyak nangisnya ya... anyway, cowok pernah nangis nggak sih kalau broken heart?) :o 

Yeah friends, emang beruntung banget bisa punya temen. Emang sih nggak selamanya mereka bakal di deketmu, tapi mereka entah darimana, bisa tau kalau kamu membutuhkan mereka. :D kayak ada radarnya gitu.

Oke kembali ke topik.
Move on itu nggak selamanya berarti kamu harus punya gandengan baru biar bisa nyaingin  mantan yang punya gandengan duluan, kecuali kalau calonnya ada dan dekat. Itu bisa berarti peringatan buat kamu biar kamu belajar menikmati hidupmu. Kan ada tuh quote: "Kalau lagi kasmaran dunia terasa milik berdua" nah berarti ketika patah hati dunianya udah dibagi dua (kayak harta gono-gini aja pfft). Nikmati dunia yang kamu miliki sepenuhnya itu, dan bagi ke orang-orang banyak. 

Kadang sendirian itu enak, mungkin ada beberapa orang yang lebih menikmati rame-rame daripada sendirian kayak orang bego, it's okay. Tapi sisihkan waktu ketika kamu bener-bener sendiri dan menikmati apa yang sudah kamu lupakan atau acuhkan dulu. 
contoh nih, dulu aku pernah sebel setengah mampus sama adek aku sendiri, tapi ketika proses move on, justru adek aku yang bisa jadi temen. Dan sampe sekarang malah jadi sering jalan-jalan bareng :) singkatnya, coba kumpul lagi sama keluarga kamu sama temen kamu, karena cuma sayang mereka yang bakal long lasting. Kadang ketika punya pacar, kita suka lupa sama mereka. Karena menurut kita saat itu, pacar adalah harta berharga yang harus dijaga sehingga menimbulkan sifat ketergantungan. Bahasa inggrisnya, posesif.

Nah itu sifat yang jeleeeeeek banget, berdasarkan kisah nyata sejuta umat, sifat itu menjadi faktor patah hati. Bukan salah kita juga kalau punya sifat itu, kan manusiawi. Cuman timingnya yang harus tepat. Aku sendiri belajar karena itu sifat dasarku, (I'm Leo!) bahwa nggak semua orang nyaman di-posesif-in. Maybe sesekali wajarlah. Tapi kalau seriiiiing? kaburlah. Hehehe, makanya ada quote: "Cinta itu kayak kupu-kupu, ketika kamu kejar dia lari, ketika kamu diam dia akan mendekat" 

The last but not least because I save the best for the last :)  momen ketika kita patah hati adalah momen peringatan bahwa selama ini kita jauh dari-Nya. Menurut kitab Amsal (kalau nggak salah) "Tuhan dekat pada mereka yang patah hatinya dan remuk jiwanya" tapi bukan berarti pas patah hati doang inget Tuhan ._. intinya jangan sampai lupakan Dia. oke oke?

Dan untuk yang keadaannya masih seperti lagu di awal post, tenang aja, Jodoh nggak bakal kemana. Klasik lagi, tapi ini bener. Jadi selagi menunggu jodohmu yang nggak bakal kemana itu, just make a fun for your life, do the f***kin' things you wanna do!

See ya!
0

Feeling 19 at The Place Where We Never Growing Up

Call up all our friends, go hard this weekend
For no damn reason, I don't think we'll ever change.....





Our Destination... Gua Pindul 


and Sadranan Beach


When the sun's going down, we'll be raising our cups
Singing, here's to never growing up!




cause that night was the night when we forgot about the deadline...and heart breaks :)




We were Happy. Free. Confused. and Lonely in the best way :D



I don't know about you, but I'm feel 19 beside you all :)


You're the best, my 19 

Wednesday, August 21, 2013

0

Cerita tentang Bayangan

*pernah di poskan melalui Twitter, 20 Juni 2013, cek my favorite! :)


Ini cerita tentang dia yang menyebut diri bayangan. Bayangan yang hidup diantara mereka yang bersinar.

Bayangan berjalan di belakang, dalam diam. Mungkin terlihat suram. Padahal ia melempar senyum jika kalian perhatikan.

Bayangan ingin bisa menghibur, menciptakan tawa sampai semua jatuh tersungkur. Tapi bukannya hilang murung mereka malah bingung.

Saat itu Bayangan ingin kabur. Lebur. Sadar diri tidak bisa membuat kelakar, ia hanya ikut tertawa dalam hambar.

Bayangan hanya ingin dirangkul pertemanan, bukan digandeng kesepian. Disimpan dalam memori, bukannya dilalui bagai hewan mati.

Ini bukan kegalauan, ini kenyataan. Siapa tau diantara teman kalian, ternyata adalah si Bayangan yang mendamba kepedulian.

Bukalah matamu, bukan mata yang terlihat melainkan yang tidak terlihat. Singkat kata: pekalah.

sekian.

Monday, August 19, 2013

0

Thieves- She and Him

There's thieves among us
Painting the walls
With all kinds of lies, and lies
I never told it all
What's in my pocket?
You never knew
You didn't know me well
So well, as I knew you

And I know, and you know too
That a love like ours is terrible news

But that wont stop me crying
No, that wont stop me crying over you

I'm not a prophet
Old love is in me
New love just seeps right in
And, it makes me guilty
Why do you look like that?
It's not all that bad
I'll see you sometime
Sometimes, lonely isn't sad

And I know, and you know too
That a love like ours is terrible news
But that wont stop me crying
No, that wont stop me crying over you
Ouuuuuuuuu
No, that wont stop me crying over you

We two are makers
Just made this mess
Two broken hearts don't beat
Any less, oh
There's thieves among us
Painting the walls
With all kinds of lies, and lies
I never told it all

And I know, and you know too
That a love, like ours
Is terrible news
But that wont stop me crying

No, that wont stop me crying over you
Ouuuuuuuuu
No, that wont stop me crying over you
Ouuuuuuuuu
No, that wont stop me crying over youuuuuuuuu
Youuuuuuuuu
Youuuuuuuuu



0

Kamu :)

Kamu, yang mengucapkan selamat pagi untukku

Kamu, yang menyemangatiku ketika aku sedang sedih

Kamu, yang menenangkanku saat aku sedang bingung atau panik

Kamu, yang ketika jauh merindukanku

Kamu, yang rela menghentikan aktifitasmu bersama teman-temanmu ketika aku menelepon

Kamu, yang mau membawakan obat ketika aku sakit

Kamu, yang selalu berusaha membuatku tertawa

Kamu, yang sewaktu-waktu marah dan nggak mau bicara denganku

Kamu, yang mau mendengarkanku

Kamu, yang suatu saat jenuh, bosan dan malas dengan hubungan denganku

Kamu, yang mendukung cita-citaku

Kamu, yang mau tertawa saat leluconku sebenarnya tidak lucu

Kamu, yang selalu memberi kejutan setiap waktu

Kamu, yang selalu sabar ketika aku cemburu

Kamu, yang suatu saat berpaling pada orang lain tapi tetap kembali padaku

Kamu, yang kadang sangat jujur tapi kadang menjadi pembohong besar

Kamu, yang akan bertingkah manja ketika sakit

Kamu, yang tetap akan memanggilku cantik meski aku sudah tua dan keriput

Kamu, yang lebih suka aku makan daripada berdiet

Kamu, yang berani berjanji menemaniku sampai beranak cucu

Ah iya, kita belum pernah bertemu

Tapi kalau ketemu, kamu akan benar-benar seperti itu, kan?

aku harap sih gitu

Friday, August 16, 2013

0

Once Upon A Dream

nyalang merah sepasang mata dalam kegelapan

bunga tidurlah yang membuatnya terbelalak

sekilas wajah, sesosok manusia yang tiba-tiba ada dalam mimpinya

wajah yang pernah menghiasi imajinya

genggaman hangat yang pernah menyentuh permukaan kulitnya

sepasang mata yang pernah menatapnya

kenapa harus ada? kenapa harus dia? padahal dirinya sudah lupa

lama tak bersua lama tak bercengkrama

tidak tidak ini bukan rindu

hanya ulasan sisa memori yang telah terbunuh waktu

jangan tunggu jawaban dari mengapa?

karena sepasang mata itu sudah terpejam meninggalkan dunia fana



tapi mungkin saja, masih ada rindu yang tidak disadarinya
entahlah.

Wednesday, July 17, 2013

0

A Very Old Story: Suitcase

menemukan sebuah naskah lama yang dulu tidak berani dipublikasikan, (takut dibilang galau asrama terus) :p

Koper#1
Keputusanku masuk ke sekolah ini awalnya aku anggap salah. Ingin rasanya aku berbalik arah, pulang ke rumah dan melanjutkan hidupku yang indah. Namun ada yang menahanku. Mungkin inilah yang disebut rasa ingin tahu manusia--yang konon sangat besar. Pikiran memerintahku bertahan, melanjutkan langkah-langkah awal ini. Langkah-langkah penuh tanda tanya, langkah-langkah menuju dunia aneh yang jauh dari riuh dan bersahabat dengan sunyi. Kemudian nantinya akan "terkekang" bagai ternak dalam kandang. Berada dalam belenggu dimana dering bel menjadi penanda segala proses yang ada.

Sebuah fase yang dinamakan "orientasi" ini dijalani dengan rasa polos,takut,cemas,minder dan malu. Fase dimana aku dan mereka masih merasa asing dan sendiri. Mungkin hanya dipersatukan dengan melodi dan permainan, namun itu belum mengubah statusku dan mereka menjadi teman.

Begitu fase ini berlanjut, makin terlihatlah bahwa semuanya itu terkotak-kotak dan penuh rasa persaingan. Semua ingin menjadi yang teratas, menjadi pusat perhatian, menjadi pimpinan. Berlomba mencari bukti eksistensi tanpa saling peduli.

Namun fase itu berganti ketika rasa jenuh dan lelah menghampiri. Mulutku dan mulut mereka saling memaki rutinitas yang tak kunjung henti. Jauh dari sumber informasi dan media komunikasi membuat aku dan mereka mengatakan kalimat "Aku kangen rumah!" dan "Aku ingin pulang!" berkali-kali. Petikan dawai gitar bukannya menghibur diri, melainkan membuat air mata mengalir di pipi.

Saat itulah aku dan mereka saling menyemangati, saling mendukung agar tidak berhenti. Ini adalah sebuah fase berharga dimana aku dan mereka saling memahami, saling mengerti dan saling menghargai. Fase dimana bentuk terkotak-kota itu menjadi bentuk utuh yang abadi--lingkaran.

Namun tentu saja masih ada yang tidak mampu menahan diri. Tertekan akan rutinitas dan terbelenggu dalam "penjara", tersiksa akan penyakit dan kehilangan jati diri dijadikan alasan mereka untuk pergi. Hal ini membuat kami semakin ketat mengawasi agar jangan sampai ada yang mengundurkan diri. Tetapi kami tak bisa mencegah adanya eliminasi yang ternyata merampas banyak dari kami.

aku tidak hanya membawa koper berisi barang-barangku ke rumah, namun juga berisi pertanyaan lagi: "Apa yang akan terjadi ketika kami kembali nanti?"

Koper #2

Fase ini adalah fase paling menyenangkan yang pernah kami alami. Fase yang diawali dengan status kami sebagai keluarga--setidaknya  begitulah kami menyebut diri--dan juga status kami sebagai kedua yang teratas. Saat inilah kami mulai berani menunjukkan identitas kami. Menjalani rutinitas tanpa beban seakan-akan kekuasaan ada di tangan.

Disinilah saat dimana kami menemukan jati diri, bahkan menemukan tempat dimana masing-masing bisa saling berbagi. Tidak ada lagi tangis, yang ada hanya tawa. Tidak ada lagi muram, yang ada hanya canda. Melodi yang mengiringi kami juga bukan melodi pilu penanda rindu, tapi melodi ceria yang membuat kami berdansa mengganti waktu yang seharusnya untuk kami belajar. Tak ada lagi malam-malam melelahkan berkutat dengan diktat karena tak ada lagi perlombaan menjadi yang terpintar. Kami tidur lebih awal dengan senyum melebar.

kami bebas, lepas bahagia. Bersatu dalam euphoria yang sama. Bangga akan setiap perbuatan hingga aturan bukan lagi halangan. Hal ini membuat kami diincar dan dipersalahkan, bahkan ketika kami hanya menentang kejanggalan. Meski satu dari kami harus pergi karena tidak tahan, kami hanya bisa merelakan. Kami anggap itu hanya keputusan dari sebuah keadaan.

Detik-detik menuju eliminasilah yang menyadarkan kami bahwa kami terjerumus kesenangan. Beberapa dari kami harus tereksekusi dengan alasan abstrak yang membuat kami tersentak dan berontak. Ketika si pembuat keputusan berkata "tidak", kami tidak bisa mengelak. Euphoria kesenangan ini seakan hanya sekejap berganti pahit getir luka meratapi perpisahan.

Saat mengepak barang ke dalam koper untuk dibawa pulang, dalam pikiranku terdapat tanda tanya lagi: "Apa kami tetap akan sama seperti dulu?"

Koper #3

Kami kembali--berbeda memang, lebih sunyi lebih sepi lebih mati. Tapi kami tetap harus melanjutkan langkah-langkah kami di tempat ini. Fase terakhir dimana kami akan menghadapi medan  pertempuran yang sesungguhnya.

menapaki hari-hari yang makin lama makin terasa berat, dimana angka hasil kerja keras menjadi prioritas. Laju waktu seakan mengingatkan kami bahwa saatnya makin dekat. Para pengawas terus mengingatkan kami agar mengalahkan rasa malas.

Malam-malam kami dihiasi dengan aroma santapan instan, minuman hangat dan buku-buku yang berserakan. Terkadang bila sudah benar-benar diujung penat kami saling menitip pesan untuk dibangunkan agar dapat melanjutkan menghapal isi diktat.

Agenda kami dipenuhi dengan rutinitas, bahkan menentukan waktu memanjakan diri pun tidak sempat. Kami memanfaatkan segala teknologi dan permainan yang menjadi penghibur kami diwaktu rekreasi kami yang sempit, dan kemudian kembali lagi menghadapi saat-saat rumit.

Terbatasnya waktu membuat kami sering terjaring konflik, karena banyak acara istimewa yang harus diikuti tanpa bisa diseleksi. Label "terakhir" terus menghantui, menjadikan kami menuntut diri. Tak jarang kami berteriak dan memaki karena tak menemukan solusi.

kami juga menyadari waktu kami disini makin singkat dan akan tamat. Memunculkan satu kata dalam benak: Perpisahan. Maka dari itu kami berusaha keras agar sisa dari kami dapat keluar dari tempat ini dengan utuh meski penat. Agar ketika kami berpisah tidak hanya diiringi dengan tangisan namun juga senyuman. Usaha kami sempat terhenti, karena satu dari kami harus pergi akibat kesalahan yang tdk bisa ditoleransi.

Melanjutkan sisa usaha kami untuk saling bertahan, masing-masing saling menyemangati agar tidak menyerah dan pasrah di tengah jalan. Tidak sia-sia memang, kami dapat keluar dengan utuh. Maka demikian fase ini berakhir dengan "sampai jumpa", "maaf" dan "terimakasih" dalam tangis dan tawa, dalam senyum dan air mata.

Sebenarnya belum berakhir,

Karena kami pasti akan bertemu lagi. Mungkin ketika kami sudah memiliki upah hasil keringat sendiri. Mungkin ketika kami sudah menggandeng si kecil buah hati. Mungkin ketika rambut kami sudah mulai memutih. Mungkin ketika kami hanya memiliki sedikit memori...tapi kami pasti kembali, untuk merangkai memori dinamis dalam nostalgia manis.

Ketika memandang gerbang kokoh lambang institusi yang disebut asrama bersama koperku hari itu, aku berkata dalam hati: "Aku tidak sendiri, mereka ada, mereka nyata. Selalu hidup dalam hati. Selalu. Selamanya,"
Kemudian aku berjalan, pulang. Mempersiapkan diri menjalani fase baru lagi.
0

Have One Page Again For You




menatap matahari yang redup perlahan ,
jingganya hilangkan semua duka . .
dan aku bersama teman2 baikku ,
yang tak akan sanggup ku lupa . .

bila ku jauh tinggalkanmu ,
hati ini tetap kan jadi milikmu . .
biar kita terpisahkan jarak waktu ,
hanya dirimu yang slalu kurindu . .

jika tiba saatnya kita kan berpisah ,
dan jalani hidup yang baru . .
satu yang ku ingat saat ku sedang susah ,
tawamu yang ringankan aku . .


tebar lagi tawamu , sebar lagi candamu ,
jangan berhenti . . jangan berhenti dulu . .
peluk lagi diriku , rangkul lagi jiwaku ,
jangan berhenti . . jangan berhenti dulu . .

tebar lagi tawamu , sebar lagi candamu ,
jangan berhenti . . jangan berhenti dulu . .
peluk lagi diriku , rangkul lagi jiwaku ,
jangan berhenti . .
karna ku ingin slalu dekat denganmu . .


walau ku tak pernah selalu ada di dekatmu ,
tapi ku tau hati kita kan slalu satu ,
dalam sebuah untaian nada dan kata2 ,
di setiap gerak dansa engkau ikut irama ,

kau mungkin tak mengerti ,
punya tempat di hati . .
kau mungkin tak sadari ,
kau begitu berarti . .

kau brikan kekuatan ,
dan brikan ku harapan . .
saat ku lelah, lemah dan terjatuh ,
kau ulurkan tanganmu membantu diriku , selalu . .

Sunday, April 28, 2013

0

Sebuah Tulisan Menjelang Tengah Malam

Ketika hati dan pikiran berseteru....mengembalikan manusia pada sesuatu yang disebut kenyataan.

kenyaataannya, terkadang apa yang kita pilih belum tentu membuat kita bahagia. Cocok dengan hati, mungkin. Tapi pikiran yang lelah sering mengusik hati untuk berhenti.

Kenyaataannya, siapapun yang kita sebut teman atau sahabat bukan berarti adalah orang yang akan selalu ada untuk kita. Hati tetap membela, tapi pikiran bertanya "dimana mereka?"

Kenyataannya, harapan terkadang menyakitkan. Hati yang berharap kalah telak dengan pikiran yang mengenalkan logika.

Kenyataannya, hati tidak tega membuat dua pegangan masa kecil yang mengais nafkah bertarung melawan nasib. Satu mencoba bertahan hidup. Satu lagi menanggung dua nyawa dalam sakitnya. Tapi herannya, pikiran masih sempat berleha-leha memanjakan dirinya.




Kenyataannya, untuk bertahan, manusia harus berusaha mendamaikan hati dan pikiran.....